Kenaikan US Dollar ke level tertinggi dalam 13 bulan memberikan tekanan pada logam-logam. Kondisi ini mengubah perdebatan mengenai emas, perak, dan tembaga menjelang akhir tahun 2026. Pertanyaan utamanya sekarang adalah logam mana yang paling tahan terhadap tekanan ini.
Karena harga komoditas ini dalam US Dollar, penguatan mata uang tersebut membuat harga logam lebih mahal di luar AS. Hal ini menekan emas, perak, dan tembaga dalam tekanan yang sama. Sekarang, perbedaannya terlihat pada rasio, grafik mingguan, dan prediksi harga akhir tahun dari bank-bank besar.
Titik awal untuk setiap logam sekarang adalah US Dollar. US Dollar Index (DXY), yang mengukur kekuatan US Dollar terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, sudah menembus angka 100 hingga mencapai level tertinggi dalam 13 bulan.
US Dollar yang lebih kuat membuat harga komoditas yang dihitung dalam US Dollar semakin mahal untuk negara lain, sehingga menekan harga emas, perak, dan tembaga. Faktor yang sama juga membuat minat risiko pada aset kripto dan saham menjadi menurun.
Ingin insight seperti ini? Daftar Newsletter Harian Editor Harsh Notariya di sini.
Faktor utama di baliknya adalah kebijakan suku bunga. Karena The Fed dinilai akan menahan suku bunga dan tidak menurunkan pada 2026, maka yield riil tetap tinggi, sehingga US Dollar tetap jadi pilihan utama. Inilah angin sakal yang menyebabkan logam-logam alami koreksi akhir-akhir ini.
Dengan grafik DXY yang tampak kuat (bullish rising channel) dan wacana kenaikan suku bunga muncul kembali, peluang US Dollar melemah dalam waktu dekat sepertinya sangat tipis. Hambatan ini berdampak pada seluruh pasar logam, jadi fokusnya kembali ke logam mana yang bisa paling bertahan.
Ketiga logam ini bergerak ke arah yang sama. Selama enam bulan terakhir, emas (XAU/USD) dan perak (XAG/USD) memiliki korelasi 0,83; perak dan tembaga 0,72; lalu emas dan tembaga, 0,61.
Korelasi mengukur seberapa erat dua aset bergerak bersamaan, dengan nilai 1,0 berarti sangat serempak dan 0 berarti tidak ada hubungan. Angka korelasi setinggi ini menunjukkan satu pola perdagangan yang sama, bukan tiga taruhan yang berbeda.
Jadi, prediksi harga emas, perak, dan tembaga pada akhirnya tergantung kekuatan relatif di antara logam tersebut, bukan memilih satu naik dan yang lain turun. Rasio dan grafik mingguan yang akan menentukan jawabannya.
Emas menjadi penentu arah grup logam ini, jadi analisis sebaiknya dimulai dari sini.
(XAU/USD) sudah bergerak dalam falling channel sejak akhir Januari, saat mendekati puncak di sekitar US$5.608. Falling channel adalah pola penurunan harga di antara dua garis tren paralel. Harga sempat berusaha naik pada 23 Maret dan mendorong lebih tinggi, namun akhirnya turun lagi.
Pada grafik mingguan, garis pentingnya adalah US$4.027. Emas seharusnya bisa bertahan di atas level ini. Jika harga penutupan mingguan bergerak di bawah US$4.027, jalur penurunan bisa berlanjut hingga US$3.249, yang menjadi area breakout sebelumnya.
Untuk kembali menguat, harga emas harus kembali ke atas US$4.400, dan jika berhasil menembus US$5.004, tren mingguan akan kembali positif.
Prediksi bank saling berlawanan. Analis Goldman Sachs, Lina Thomas dan Daan Struyven, memangkas target akhir tahun emas menjadi US$4.900 pada 19 Juni, karena menilai The Fed mungkin tidak akan menurunkan suku bunga pada 2026. Sementara JPMorgan memperkirakan harga emas bisa menembus US$6.000 tahun ini, meski sentimen bearish masih mendominasi pasar.
Perak bergerak mengikuti pola bearish emas, namun grafiknya menyimpan pola kedua.
(XAG/USD) sedang berada pada falling channel yang sama, sebagaimana didukung korelasi tingginya. Namun, di bawahnya sedang terbentuk pola double bottom, yaitu pola harga yang menciptakan dua titik rendah yang mirip dan memberi sinyal adanya dasar harga.
Rintangan pertama ada di US$66,53, yang sudah pernah gagal ditembus. Level yang paling penting adalah US$75,36. Jika harga mingguan bergerak di atas zona US$75, maka falling channel akan terpecahkan dan tren bisa berubah bullish.
Arah penurunan sudah jelas jika gagal. Di bawah US$59,40, target berikutnya adalah US$52,27 lalu US$42,12. Pemicu naik yang lebih besar berada di US$89,62, level yang akan melengkapi pola double bottom dan memproyeksikan pergerakan sekitar 46%, meskipun itu masih cukup jauh.
Fundamental tetap mendukung. Silver Institute memproyeksikan defisit pasar tahunan keenam berturut-turut pada tahun 2026, mendekati 215 juta ons, dan akan menjadi yang terbesar dalam sejarah. Enam tahun beruntun defisit artinya pasar mengandalkan stok di atas tanah untuk menutupi kekurangan, sehingga terjadi tekanan bertahap yang menjaga harga silver tetap naik dari waktu ke waktu.
Tembaga menjadi bagian lain dari cerita silver, yaitu permintaan dari sektor industri, dan saat ini, tembaga sedang menjadi komoditas untuk trade AI.
Tembaga sudah bergerak naik dalam channel sejak 2024. Nilainya mendekati breakout di atas channel tersebut pada 11 Mei dan kembali pada 1 Juni, di mana kini terbentuk double top, pola dua puncak yang gagal menembus, mengindikasikan tanda kelelahan.
Faktor utama ada pada pembangunan AI. Goldman Sachs Research memperkirakan permintaan listrik pusat data akan naik sekitar 165% hingga tahun 2030, dan memprediksi peningkatan jaringan serta infrastruktur listrik akan menyumbang lebih dari 60% pertumbuhan permintaan tembaga dekade ini, yaitu sekitar 6 hingga 8 ton tembaga per megawatt kapasitas.
Lalu, kenapa tembaga justru tertahan di bawah breakout? Trade AI mulai goyah, sedangkan risiko kebijakan pusat data juga mulai menahan laju kenaikan harga. Hal ini terlihat pada target harga. Target harga dari perbankan kini menyentuh rekor harga tembaga.
Rata-rata harga JPMorgan untuk tahun 2026 sekitar US$12.075 per ton, sedikit di bawah harga saat ini. Goldman baru-baru ini menaikkan target akhir tahun menjadi sekitar US$13.735, dan Citi menjadi yang tertinggi, yaitu mendekati US$15.000.
Pada grafik, tembaga perlu bertahan di US$6,12. Jika turun di bawah level itu, bisa saja terkoreksi ke US$6,04. Jika grafik mingguan naik di atas US$6,47, target berikutnya US$6,68 lalu US$7,02 menjadi incaran. Level US$6,68 akan memvalidasi breakout sebenarnya.
Dalam satuan per pon yang digunakan grafik, target harga berkisar di sekitar harga tembaga sekarang, yaitu US$6,16. Rata-rata JPMorgan di tahun 2026 mendekati US$5,48, di bawahnya. Target akhir tahun Goldman yang kini naik berada di sekitar US$6,23, tepat di level saat ini, sementara Citi menargetkan di sekitar US$6,80, sedikit di atas level breakout US$6,68.
Rasio antar logam menunjukkan bagaimana ketegangan ini terjadi.
Tiga rasio membingkai gambaran makro. Rasio emas-silver telah naik dari sekitar 44 di Januari menjadi 66 saat ini. Angka ini merefleksikan kondisi risk-off yang mengunggulkan emas, meski 66 belum cukup tinggi untuk mengatakan silver undervalued.
Rasio emas-minyak naik dari sekitar 41 pada 19 Mei ke 56, level yang menunjukkan emas kuat sedangkan minyak melemah.
Sementara itu, rasio silver-tembaga justru turun. Angkanya anjlok dari sekitar 19 di Januari ke 10, menandakan tembaga memimpin, ciri utama permintaan sektor industri.
Inilah inti ketegangannya. Emas dan minyak mengarah ke risk-off, silver dan tembaga mengarah ke pertumbuhan industri. Akhirnya silver jadi tertekan di antara dua rezim tersebut.
Jika digabungkan, ketiga grafik ini memberi petunjuk urutan kekuatan menghadapi akhir tahun.
Tembaga adalah pemimpin secara struktural. Cerita permintaan AI dan jaringan listrik menjadi alasan terkuat untuk jangka panjang, tapi grafik kini tertahan pada pola double top, sedangkan sebagian besar target perbankan tahun 2026 justru mengisyaratkan potensi koreksi dari level rekor tersebut dalam waktu dekat.
Emas jadi jangkar makroekonomi. Ada selisih pendapat paling besar di antara bank, dengan selisih US$1.100 antara prediksi Goldman di US$4.900 dan JPMorgan di US$6.000, dan emas baru akan memimpin bila tekanan serta penurunan suku bunga lebih dominan.
Silver adalah wild card berisiko tinggi. Saat ini berada di belakang keduanya, tapi dengan rekor defisit suplai dan pola double bottom yang mulai terbentuk, ada potensi paling besar untuk mengejar jika permintaan makro maupun industri kembali menguat.
Dolar jadi penentu utama. Selama DXY bertahan di atas 100, pergerakan komoditas tetap tertahan, dan tembaga di harga US$6,12 menjadi batas yang memisahkan reli baru yang dipimpin AI dari pola double top yang bisa menarik harga perak dan emas ikut turun. Semua itu terjadi karena ketiganya punya korelasi positif.
