Harga minyak turun tajam lagi pada hari Jumat ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan penyelesaian dengan Iran tinggal menunggu dokumen akhir. Brent diperdagangkan di kisaran US$86,30, level terlemah dalam hampir dua bulan.
Tetapi, data futures curve, pasar prediksi, dan derivatif menunjukkan cerita yang lebih rumit. Empat data berbeda justru berselisih pendapat terkait seberapa cepat dan seberapa penuh sentimen damai ini dihitung ke dalam harga minyak mentah.
Harga minyak mentah Brent turun 4,5% pada hari Jumat dan kini kehilangan hampir 20% dalam sebulan. Penurunan semakin dalam setelah Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS telah “mencapai kesepakatan besar untuk menghentikan perang dengan Iran” dan hanya “tinggal menunggu finalisasi dokumen”.
Para trader menjual karena apabila kesepakatan ditandatangani, Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% distribusi minyak global sebelum perang, akan dibuka kembali. Aliran pasokan yang pulih akan menghapus premi suplai yang terbentuk selama konflik.
Tetapi, belum ada dokumen yang ditandatangani. Kantor berita semi-resmi Fars di Iran melaporkan bahwa Teheran kemungkinan besar setuju, tetapi kedua belah pihak belum menyetujui teks akhir. Karenanya, pasar saat ini menjual sebuah janji, bukan sebuah perjanjian nyata.
Futures curve memperlihatkan seberapa besar ketenangan yang sudah dihargai oleh para trader.
Brent prompt spread mengukur selisih antara kontrak futures minyak bulan depan dan bulan kedua. Spread positif berarti terjadi backwardation, di mana pembeli membayar lebih mahal untuk minyak segera karena pasokan fisik sedang ketat.
Ingin wawasan seperti ini lebih banyak? Daftar newsletter harian Editor Harsh Notariya di sini.
Spread itu sempat memuncak di US$10,27 pada awal April, terjadi kepanikan beli minyak mentah akibat perang. Sekarang, spread sudah anjlok sekitar 89% ke US$1,11, termasuk turun 12,6% hanya pada hari Jumat saja.
Penurunan ini jadi sinyal bearish untuk harga minyak. Pembeli fisik sudah tidak mau bayar lebih untuk pengiriman segera, artinya kepanikan pasokan yang sebelumnya mendorong reli kini mereda di pasar. Futures curve secara efektif mendukung versi Trump yang menawarkan kesepakatan membuka kembali Selat Hormuz dan mengembalikan pasokan, bukan bantahan dari Teheran.
Namun, spread ini belum benar-benar kembali normal. Level sebelum perang ada di kisaran US$0,24, dan jika turun ke bawah nol (kontango) berarti pasokan sudah benar-benar surplus. Dengan US$1,11, curve sudah menghargai sebagian besar perdamaian tapi belum sepenuhnya, masih ada keraguan kecil yang sejalan dengan Iran yang enggan mengonfirmasi.
Keraguan sisa ini penting karena terkait stok minyak. International Energy Agency telah memperingatkan bahwa cadangan minyak global berkurang sangat cepat. Jika penandatanganan molor, pasar fisik yang sedang ketat dengan inventaris mendekati titik terendah bisa mendorong spread melonjak lagi secara tiba-tiba, bersama harga spot-nya. Sinyal bearish dari curve hanya berlaku selama proses perdamaian masih berjalan.
Jadi, futures curve memang mendukung perdamaian, sambil tetap mewaspadai potensi penundaan, dan pasar prediksi memasang angka spesifik untuk risiko penundaan tersebut.
Peluang di Polymarket untuk tercapainya perdamaian abadi antara AS dan Iran, dengan volume mencapai US$293 juta, jauh dari kesan buru-buru yang tercermin di pasar minyak. Trader hanya memberi peluang 14% untuk penandatanganan perjanjian sebelum 15 Juni dan 33% sebelum 30 Juni.
Sementara itu, probabilitas justru mengarah ke bulan-bulan lebih lambat, bukan lebih cepat. Peluang untuk 31 Juli turun 10 poin ke 41%, tetapi untuk 31 Agustus melonjak 15 poin ke 56%. Untuk bulan Oktober, peluangnya 70% dan Desember 75%. Ini bisa saja karena Trump juga sudah berulang kali menyatakan seperti “deal is close”, hampir 40 kali.
Kedua pasar ini sama-sama bisa benar, karena mereka bergantung pada parameter berbeda. Harga minyak hanya butuh kapal tanker mulai bergerak, dan analis JPMorgan menerangkan bahwa sebenarnya volume masih cukup besar yang melewati selat. Tetapi Polymarket menuntut dokumen permanen yang sudah ditandatangani, syarat yang jauh lebih berat.
Sementara itu, para trader dengan leverage sudah memilih sikap mereka.
United States Brent Oil Fund (BNO), sebuah exchange-traded fund yang melacak futures Brent, pertama kali menunjukkan adanya keraguan. Rasio put to call-nya, yaitu perbandingan volume put bearish dengan volume call bullish, turun dari 0,11 pada 8 Juni menjadi 0,04 pada 11 Juni. Angka serendah itu berarti call mendominasi sesi tersebut dengan selisih yang sangat besar.
namun, rasio yang diukur berdasarkan open interest, yaitu total kontrak yang belum terselesaikan, bertahan di angka 0,10. Pembelian call baru tidak bertahan di order book yang ada. Data ini menunjukkan bahwa para trader mungkin membeli asuransi upside murah sebagai perlindungan jika kesepakatan gagal, bukan karena mereka menjadi bullish secara langsung. Inilah hasil yang juga diberikan probabilitas nyata oleh Polymarket, sehingga kedua pasar tersebut menghargai satu ketakutan yang sama.
Hyperliquid perps justru bergerak sebaliknya. Nansen, sebuah platform analitik pelacak wallet berlabel, menunjukkan whale net short US$16,9 juta dan smart trader yang secara historis selalu untung net short US$3,4 juta di kontrak Brent platform tersebut.
Net short artinya para trader ini akan mendapat untung bila harga minyak turun, sehingga aksi jual mereka turut mempercepat penurunan harga yang dipicu oleh berita utama tersebut. Arus bersih taker tercatat mencapai minus US$58,2 juta dalam 24 jam, yang menegaskan penjualan agresif tengah berlangsung.
Funding rate berada di angka 17,4% per tahun dengan long harus membayar. Short pun mendapat pemasukan hanya dengan mempertahankan posisinya, sehingga mereka terus menekan tren saat kebingungan masih terjadi.
Dengan opsi yang digunakan untuk lindung nilai atas keraguan dan perps mengejar momentum, langkah selanjutnya kini jadi milik para negosiator, bukan para trader.
Sebuah nota kesepahaman yang ditandatangani akhir pekan ini bisa menjadi validasi atas aksi jual dan memberi keuntungan pada pihak short. Sementara penolakan tambahan dari Teheran, yang sesuai dengan probabilitas Polymarket, akan membuat pasar short yang ramai sangat rentan terhadap lonjakan tajam harga minyak.
