Akun resmi White House membagikan “Q posting” yang misterius, lalu menegaskan bahwa Q berarti quantum. Postingan ini mengubah isu kebijakan yang biasanya kaku menjadi viral, sekaligus memicu kembali perdebatan soal risiko quantum terhadap Bitcoin.
Akun tersebut meminta para pengikutnya untuk “tetap pantau,” memberi petunjuk tentang dorongan quantum dari pemerintahan Presiden Donald Trump. Bagi dunia aset kripto, momen ini kembali menyoroti kekhawatiran lama terhadap kriptografi Bitcoin.
Pernyataan singkat itu memang sengaja dibuat samar.
Akun resmi White House mengunggah kalimat itu pada hari Senin, menarik perhatian dan kritik sebelum akhirnya mengungkap maksud quantum tersebut.
Di balik unsur meme, ada kebijakan nyata. Petunjuk ini mengarah pada rencana perintah eksekutif yang diperkirakan keluar minggu ini, seperti yang diberitakan oleh Nextgov.
Nantinya, FBI dan badan intelijen akan bertugas melindungi riset quantum dari upaya mata-mata asing.
Perintah sama juga akan meminta Departemen Energi dan Pertahanan untuk membangun komputer quantum. Laporan tersebut juga menyebutkan penciptaan langkah-langkah untuk mempercepat migrasi kriptografi pasca-quantum, serta rencana dari Komisi Perdagangan untuk mendorong investasi lebih besar pada perusahaan quantum.
Langkah ini melanjutkan rekam jejak Presiden Trump sendiri yang pada 2018 menandatangani National Quantum Initiative Act, meski beberapa bagian penting aturannya sudah berakhir pada 2023.
Kemajuan ini berdampak dua sisi bagi Bitcoin. Semakin kuat komputer yang dikembangkan, semakin dekat dengan Q-Day—hari ketika komputer quantum bisa membobol kriptografi yang melindungi wallet.
Perkembangan matematika juga sangat pesat. Pada 2019, peneliti Google, Craig Gidney, memperkirakan butuh sekitar 20 juta qubit untuk membobol enkripsi RSA-2048. Namun, pembaruan risetnya pada Mei 2025 menurunkan angka itu menjadi kurang dari 1 juta qubit.
Sebuah survei dari Global Risk Institute menyebut kemungkinan mesin kapabel sudah ada dalam 15 tahun ke depan. Solusi jangka panjangnya adalah mengadopsi kriptografi tahan quantum, namun proses koordinasinya di seluruh jaringan bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Pernyataan singkat ini muncul hanya beberapa hari setelah pendiri Binance, Changpeng Zhao (CZ), mengusulkan agar koin milik Satoshi yang tidak aktif dibekukan. Ia membicarakan hal itu dengan Alex Thorn dari Galaxy Research, seraya mengklarifikasi bahwa keputusan ini sebaiknya menjadi keputusan bersama komunitas, bukan rencana pribadinya.
Dampaknya sangat nyata. Hingga 1 Maret, lebih dari 34% total Bitcoin pernah memperlihatkan public key di chain, menurut data BIP-361. Hal itu membuat koin tersebut terbuka terhadap potensi serangan quantum di masa depan.
Draf yang disusun oleh Jameson Lopp dan lima rekan penulisnya ini ingin memblokir pengiriman ke alamat Bitcoin yang rentan terhadap quantum. Dua tahun kemudian, draf ini akan membatalkan signature lawas sepenuhnya.
Para kritikus berpendapat bahwa pemblokiran paksa tersebut bertentangan dengan aturan Bitcoin bahwa tidak seorang pun dapat mengambil aset orang lain secara sepihak.
Sebelumnya, CZ pernah mengimbau agar tetap tenang menghadapi risiko quantum, dengan alasan jaringan bisa melakukan upgrade tepat waktu.
Estimasi 1,1 juta BTC milik Satoshi Nakamoto, yang dilacak melalui pola Patoshi, merupakan target paling menonjol. Dengan harga Bitcoin sekitar US$64.545, total aset tersebut bernilai sekitar US$71 miliar.
White House telah menawarkan sebuah meme sekaligus janji. Apakah perintah yang akan dirilis nanti benar-benar akan menjadikan risiko quantum pada Bitcoin sebagai narasi utama berikutnya di dunia aset kripto, semuanya bergantung pada apa isi perintah itu nantinya.


