Saham-saham Russell 2000 yang merugi naik sekitar 60% sejak April 2025, jauh melampaui kenaikan 38% untuk perusahaan small-cap yang mencetak laba, menurut Apollo Global Management.
Kesenjangan ini makin melebar hingga pertengahan 2026, sehingga Kepala Ekonom Apollo, Torsten Slok, mengingatkan bahwa pasar sudah tidak lagi menilai risiko seperti dulu.
Perbedaannya sangat jelas. Dari sekitar 2.000 anggota indeks ini, sebanyak 806 mencatatkan laba berjalan negatif di akhir tahun lalu. Sementara 1.120 lainnya membukukan laba positif, menurut data Apollo.
Porsi 40% itu bukan hal baru. Slok sudah menyorot hal ini sejak November 2023, ketika ia memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan yang merugi akan paling rentan menghadapi suku bunga tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Sekarang, justru saham-saham tersebut yang memimpin pasar. Perubahan arah ini menjadi teka-teki yang terus diamati Slok.
Reli ini sendiri bermula sejak awal April 2025. Saham-saham sempat terpuruk akibat guncangan tarif Hari Pembebasan. Sejak titik terendah itu, Russell 2000 sudah naik hampir 44%, terang Royce Investment Partners.
Saham micro-cap bahkan naik lebih jauh, sekitar 66%. Trader memperhatikan rebound tersebut lewat sinyal breakout Russell 2000 yang mengindikasikan minat risiko yang semakin tinggi.
Sejak itu, small cap terus menembus rekor tertinggi baru di seluruh indeksnya.
Kebanyakan perusahaan yang merugi berasal dari sektor teknologi, tutur Slok kepada Fortune. Banyak di antaranya bergerak di bidang software, semikonduktor, dan bioteknologi, sektor-sektor yang terdorong oleh saham AI yang memicu kenaikan di pasar yang lebih luas.
Produsen semikonduktor jadi pendorong utama reli di saham micro-cap, ujar Royce.
Investor rela membayar mahal demi janji pertumbuhan di masa depan daripada keuntungan saat ini. Fenomena tersebut semakin menumbuhkan kekhawatiran bubble AI di kalangan para ahli strategi yang melihat valuasi makin melambung.
Tidak semua pihak menilai ini sebagai gejala bubble. Lisa Shalett dari Morgan Stanley memaparkan bahwa perusahaan small-cap memang menanggung biaya modal yang lebih tinggi dibandingkan imbal hasil aset mereka.
Francis Gannon dari Royce berpendapat banyak small-cap yang benar-benar menjadi pemasok utama dalam ekspansi AI. Ia juga optimistis laba perusahaan kecil akan tumbuh lebih baik di 2026.
Jarak antara kedua kelompok ini terus melebar, karena arus uang murah dan antusiasme pada AI masih mendominasinya.
Slok sudah menyoroti perbedaan ini sejak Oktober lalu, namun jurang tersebut hingga kini belum menutup. Kemungkinan, perusahaan-perusahaan yang mencatat laba hanya bisa memperkecil jarak bila suku bunga turun dan euforia atas tren AI mulai mereda.


