Wakil presiden senior ExxonMobil memperingatkan bahwa keketatan stok minyak akan mencapai level kritis dalam hitungan minggu, yang dapat memicu lonjakan harga tajam kecuali pasokan fisik segera pulih.
Neil Chapman, wakil presiden senior perusahaan, mengungkapkan dalam konferensi investor Bernstein bahwa pasar hanya berjarak beberapa minggu dari level stok yang sangat jarang terjadi. Ia memperkirakan harga Brent crude bisa melonjak ke US$150 atau US$160 per barel.
Persediaan minyak global yang tercatat turun sekitar 246 juta barel selama Maret dan April, menurut Badan Energi Internasional.
Laju penarikan stok semakin cepat sejak terjadi gangguan di Selat Hormuz.
Kerugian pasokan kumulatif akibat gangguan pengiriman di Hormuz bisa melebihi satu miliar barel sampai akhir bulan. Penutupan jalur utama oleh Teheran menyebabkan sekitar seperlima aliran minyak dunia terhenti.
Analis independen berpendapat bahwa stok minyak komersial sebenarnya lebih lemah dibanding data utama yang beredar.
Penjualan lanjutan dari Cadangan Minyak Strategis membuat angka utama terlihat lebih baik. Namun, tangki dan pipa yang dimiliki pembeli swasta justru semakin menipis dengan cepat.
Pelepasan Cadangan Minyak Strategis dan penjualan stok pemerintah memang sedikit menahan kejutan pasokan.
Tetapi, bantalan tersebut akan cepat habis ketika stok komersial ikut berkurang. Para investor energi pun mulai mengalihkan portofolio ke saham-saham minyak yang layak dipantau karena visibilitas pasokan semakin rendah.
Chapman menggambarkan jangka waktunya tinggal dua atau tiga minggu sebelum kekurangan stok menimbulkan gangguan besar.
Model pasokan internal ExxonMobil memperkirakan harga Brent crude bisa mendekati US$150 jika pembeli fisik mulai berlomba-lomba mendapatkan kargo yang makin langka.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara real-time
Pandangan Exxon sejalan dengan kekhawatiran yang meningkat dari analis energi independen. Beberapa trader menilai pasar Futures justru meremehkan keketatan pasar fisik.
Mereka menyoroti gap yang melebar pada harga minyak jenis tertentu dan margin produk olahan.
Investor kripto dan ekonomi makro pun turut memperhatikan situasi ini. Harga minyak yang naik akan memicu ekspektasi inflasi dan menyulitkan langkah bank sentral dalam menentukan suku bunga.
Aset berisiko juga sudah menunjukkan sensitivitas terhadap ketegangan Iran-Hormuz, dengan Bitcoin (BTC) menurun setiap ada kekhawatiran terkait gangguan pasokan.
Bahkan gangguan pasokan yang kecil bisa menyebabkan kelangkaan bensin saat permintaan puncak. Jika Brent melewati US$150, pemangkasan permintaan sangat mungkin jadi jalan satu-satunya untuk menyeimbangkan pasar.
Arah yang diambil beberapa minggu ke depan, apakah prediksi Chapman terbukti atau tidak, bisa sangat menentukan dinamika guncangan minyak sekaligus pergerakan pasar berisiko yang lebih luas.

