Harga minyak memperpanjang kenaikan pada awal perdagangan Asia hari Senin setelah Presiden Donald Trump secara tajam meningkatkan ancaman terhadap Iran. Ia berjanji akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz paling lambat Selasa.
Ultimatum terbaru ini menandakan konflik yang sudah berlangsung enam minggu kini memasuki fase yang lebih berbahaya, tanpa ada jalan damai yang terlihat.
Dalam sebuah posting di media sosial, Trump menyatakan hari Selasa akan menjadi “Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan” dan menuntut Iran untuk “buka f—ing Selat”, seraya memperingatkan Teheran akan “hidup di Neraka.” Bahasa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menandakan frustrasi yang semakin besar dari Washington karena diplomasi untuk menyelesaikan masalah jalur perairan penting tersebut masih buntu.
Harga Brent naik menembus US$111 per barel, naik 1,9%, sementara West Texas Intermediate diperdagangkan mendekati US$112 selama sesi pagi Asia. Teheran menolak tuntutan tersebut, dan Selat Hormuz tetap tertutup bagi sebagian besar lalu lintas pelayaran. Perang ini telah menimbulkan guncangan pasokan yang kini mengancam berubah menjadi krisis energi global secara penuh.
Kenaikan harga minyak dan bahan bakar kini memicu inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, serta memberi tekanan pada pelaku usaha dan konsumen di seluruh dunia. Harga bensin di Amerika Serikat naik sekitar US$1 per galon sejak konflik dimulai. Para analis memperkirakan data indeks harga konsumen bulan Maret yang akan diumumkan hari Jumat menampilkan kenaikan bulanan tertajam sejak tahun 2022.
Anggota OPEC+ menyetujui penambahan produksi kecil, sebanyak 206.000 barel per hari untuk bulan Mei setelah rapat di akhir pekan. Tapi, langkah ini lebih bersifat simbolis, karena produsen utama tidak sanggup menaikkan produksinya akibat perang. Pasokan dari Rusia juga terganggu karena serangan drone Ukraina terhadap terminal ekspor Rusia di Laut Baltik.
Indikator tekanan pasar kini menunjukkan tanda bahaya. Selisih prompt Brent melebar lebih dari US$10 per barel dalam kondisi backwardation. Selisih ini melebihi puncak yang terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022. Harga pasar fisik bahkan menggambarkan situasi yang lebih parah. Dated Brent melonjak melewati US$140 per barel, mencapai level yang terakhir kali terjadi pada tahun 2008.
Iran telah secara resmi memberi tahu para mediator bahwa mereka tidak akan bertemu pejabat Amerika Serikat di Islamabad, dan upaya gencatan senjata terhenti. Teheran hanya mengizinkan sejumlah kapal dari negara tertentu yang dianggap bersahabat untuk melintasi Selat Hormuz. Irak mendapat pengecualian dari pembatasan Iran atas pelayaran, meskipun operator kapal tetap berhati-hati memasuki selat tersebut. Oman mengatakan telah membahas berbagai opsi dengan Teheran untuk mengembalikan arus pelayaran.
Pembeli global kini bersaing secara agresif mencari pasokan minyak alternatif dari US Gulf Coast dan North Sea. Serangan Israel terhadap Iran berlanjut selama akhir pekan, sementara Teheran melancarkan serangan ke markas besar Kuwait Petroleum Corp. serta menghentikan operasi di pabrik petrokimia Uni Emirat Arab.
Pasar saham Asia dibuka hati-hati. Indeks Nikkei Jepang naik 0,7% dan saham Korea Selatan bertambah 2%. Harga emas turun sekitar 1% ke kisaran US$4.630 karena biaya energi yang melonjak membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga semakin pudar.


