Sesi pertama pembicaraan tingkat tinggi antara AS dan Iran telah selesai di Swiss pada hari Senin. Mediator dari Qatar dan Pakistan mengonfirmasi adanya roadmap menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari, di bawah kerangka Memorandum of Understanding Islamabad.
Pernyataan bersama juga mengonfirmasi pembentukan Komite Tingkat Tinggi yang akan memberikan pengawasan politik, dengan negosiator utama memimpin kelompok kerja khusus di bidang isu nuklir, sanksi, dan penyelesaian sengketa.
Para pihak juga membentuk sebuah jalur komunikasi untuk mencegah insiden dan memastikan jalur perdagangan komersial yang aman di Selat Hormuz. Sebuah sel de-konflik yang melibatkan AS, Iran, dan Lebanon akan menegakkan penghentian operasi militer di sana. Pembicaraan teknis akan terus berlanjut sepanjang sisa pekan ini di Burgenstock.
Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran terbesar menjelang sesi hari Senin. Laporan tentang Iran yang mundur pada hari Minggu sempat meningkatkan kekhawatiran Black Monday di pasar minyak dan aset kripto, sehingga para trader tetap waspada saat pasar dibuka.
Minyak menjadi indikator paling langsung. Jalur komunikasi Selat Hormuz yang secara eksplisit dikonfirmasi dalam pernyataan bersama, adalah detail yang akan dihitung pasar secara agresif. Saat Memorandum tanggal 14 Juni pertama kali diumumkan, harga minyak turun lebih dari 12% dan Dow Jones mencetak rekor tertinggi. Mekanisme Hormuz yang kredibel dan terlembaga bisa memperpanjang penurunan harga minyak tersebut.
Saham kemungkinan juga akan mengikuti, seiring biaya energi yang lebih rendah menurunkan ekspektasi inflasi dan memperbaiki prospek laba. Saluran ekonomi makro yang sama ini juga berdampak ke aset kripto. Bitcoin bergerak selaras dengan sentimen risiko selama konflik berlangsung, naik saat ketegangan mereda dan turun saat terjadi serangan baru, dengan BTC bertahan di kisaran US$64.200 menjelang hari Senin.
Batas atas reli apa pun tetap ditentukan oleh The Fed. Sikap hawkish The Fed pada 17 Juni telah menghapus kenaikan saham dan aset kripto pasca-MoU. Sel de-konflik Lebanon menjadi titik kritis geopolitik yang perlu diawasi, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebutnya sebagai “ujian nyata pertama” bagi perjanjian ini, dan setiap pertempuran baru di sana merupakan jalan tercepat kembali ke sentimen risk-off di semua kelas aset.
