Harga minyak Brent baru saja mencatat penurunan mingguan terdalam dalam beberapa bulan terakhir, namun harga Bitcoin (BTC) hampir tidak bergerak. Sebagai catatan, Brent turun 9% dalam sepekan sementara BTC hanya turun 1%. Perbedaan ini menguji hubungan antara minyak dan Bitcoin yang selama ini banyak trader serta pakar pasar anggap sebagai sebuah aturan.
Beberapa pelaku pasar menilai turunnya harga minyak sebagai lampu hijau untuk pemulihan Bitcoin. Namun, latar cerita sebenarnya berkaitan dengan inflasi, posisi pasar, dan aktivitas para Bitcoin miner di jaringan, dan sebenarnya mengarah ke hal yang tidak terduga.
Minyak Brent, patokan minyak global, turun di bawah US$80 minggu ini, atau turun sekitar 9%. Minyak WTI, patokan minyak AS, juga turun mendekati kisaran US$70-an.
Adanya kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz membuat harga minyak anjlok tajam.
Pandangan yang berkembang di kalangan trader menyebutkan bahwa setiap kali harga minyak jatuh, Bitcoin akan membentuk titik terendah makro segera setelahnya. Ada yang memperkirakan minyak bakal naik kembali tahun ini seiring memanasnya ketegangan Iran-Israel dan kemungkinan biaya melintas Hormuz. Reli tersebut, menurut mereka, akan memicu penurunan terakhir Bitcoin yang akan menjadi titik terendahnya.
Sementara itu, potensi risiko tersebut bukanlah sesuatu yang sia-sia. Iran baru saja menangguhkan pembicaraan 60 hari dengan AS, yang bisa saja kembali mengangkat harga minyak. Meski demikian, satu hubungan harga saja jarang menceritakan keseluruhan kisah dan data lima tahun terakhir pun nyaris tidak mendukung kaitan antara Bitcoin dan minyak.
Dalam lima tahun terakhir, korelasi antara Bitcoin dan minyak mentah hanya berada di angka 0,036. Korelasi bergerak dari +1, artinya aset bergerak seirama, hingga -1 artinya bergerak berlawanan. Pada nilai 0,036, hubungan antara minyak dan Bitcoin nyaris tidak terlihat secara konsisten.
Namun, satu angka rata-rata bisa saja menyesatkan. Banyak yang menduga hubungan ini hanya muncul saat pasar minyak bergejolak. Karena itu, kami membagi data menjadi dua kelompok: periode pasar minyak yang tenang dan periode bergejolak. Jika perilaku Bitcoin dan minyak berbeda di masing-masing kelompok, maka satu angka rata-rata saja jadi kurang akurat.
Bahkan setelah dipisahkan, kedua angka korelasi tetap mendekati nol. Saat harga minyak bergejolak, korelasinya -0,02 dan saat stabil di angka +0,05. Keduanya sangat dekat dengan nol, jadi tidak ada satupun set data yang menunjukkan adanya hubungan nyata.
Ingin insight token seperti ini? Daftar ke Newsletter Crypto Harian Editor Harsh Notariya di sini.
Data terbaru untuk 30 hari terakhir berada di angka -0,21. Artinya, harga minyak dan Bitcoin cenderung sedikit bergerak berlawanan akhir-akhir ini (dan memang demikian), namun sangat lemah. Singkatnya, tidak ada kondisi pasar yang membuat minyak menjadi penggerak utama Bitcoin.
Rantai hubungan dari minyak ke Bitcoin juga sebenarnya sudah sedikit terputus. Harga minyak mempengaruhi inflasi break-even — indikator pasar tentang ekspektasi kenaikan harga — dengan tingkat korelasi sedang, yakni 0,41. Namun sinyal inflasi tersebut hampir tidak menjangkau real yield, yaitu imbal hasil obligasi setelah dikurangi inflasi. Hubungan antara imbal hasil obligasi dengan Bitcoin juga sangat lemah. Jadi, hubungan antara Bitcoin dan minyak semakin melemah seiring berpindahnya pengaruh dari titik awal ke titik akhir.
Sebaliknya, tekanan paling langsung sekarang justru datang dari The Fed. Ketua baru, Kevin Warsh, mempertahankan suku bunga pada 17 Juni, dan 9 dari 18 pejabat memperkirakan adanya kenaikan pada tahun 2026.
Jadi, kebijakan suku bunga mempengaruhi Bitcoin lebih cepat dibanding harga minyak. Jika minyak tidak jadi pengendali Bitcoin, maka pertanyaan selanjutnya adalah apa yang menjadi penggeraknya, dan grafik mengindikasikan pola perilaku pelaku pasar.
Data sejarah memperjelas hal ini. Ketika harga Brent sempat mencapai puncak siklus mendekati US$119 di akhir Maret, Bitcoin tetap stabil dan tidak mengalami breakdown.
Para holder jangka panjang, yaitu wallet yang menyimpan koin selama berbulan-bulan (lebih dari 155 hari), tetap menambah koleksi aset mereka sepanjang periode itu. Posisi bersih mereka tetap positif hingga Juni, suatu perubahan jelas dari aksi jual besar-besaran di akhir 2025. Pola ini menunjukkan bahwa para pemilik paling sabar tidak terpengaruh oleh harga minyak yang mahal.
Satu-satunya hubungan jelas antara minyak dan Bitcoin ada pada sektor mining. Energi menjadi biaya utama untuk menghasilkan Bitcoin, sehingga harga minyak yang tinggi dalam waktu lama dapat menekan margin para Bitcoin miner. Meski begitu, hash rate Bitcoin, yakni total kekuatan komputasi demi menjaga keamanan jaringan, justru terus naik belakangan ini walau harga WTI turun. Hash rate yang naik seiring energi yang makin murah menandakan keyakinan Bitcoin miner, bukan menyerah.
Menariknya, hash rate tetap stabil bahkan saat harga minyak melonjak pada bulan Maret.
Karena holder dan Bitcoin miner tetap stabil, tekanan justru datang dari tempat berbeda, yaitu pasar derivatif.
Tekanan ini muncul di derivatif. Open interest Bitcoin, yaitu total nilai kontrak Futures aktif, naik sejak 11 Juni. Nilainya bertambah dari US$21,83 miliar menjadi sekitar US$23,45 miliar. Dalam periode yang sama, funding rate Bitcoin berubah dari sekitar +0,0023% menjadi sekitar −0,002%.
Funding adalah pembayaran rutin yang dipertukarkan antara trader long dan short. Jika nilainya negatif, maka posisi short membayar posisi long, menandakan kecenderungan bearish. Kontrak yang makin banyak ditambah funding rate negatif memperlihatkan trader lebih banyak memasang taruhan short, bukan mengambil posisi long dari koreksi yang dipicu harga minyak.
Logikanya penting. Jika harga minyak lebih murah memang membawa dampak bullish langsung, maka posisi trader akan cenderung long. Tapi justru posisi saat ini lebih banyak short. Kondisi ini bisa memicu short squeeze. Dalam situasi short squeeze, pantulan harga sedikit saja dapat memaksa para short untuk membeli kembali (cover), sehingga kenaikan harga makin cepat.
Di sinilah letak jebakannya. Jika short squeeze terjadi, banyak orang lagi-lagi akan mengaitkan kenaikan harga dengan turunnya harga minyak. Padahal, reli justru berasal dari posisi short yang terpaksa cover, bukan dari minyak mentah. Sentimen dasarnya tetap negatif, jadi jika harga terdorong, itu hanya karena mekanisme pasar, bukan sinyal langsung dari harga minyak.
Saat ini, hubungan minyak dan Bitcoin belum cukup kuat untuk menggerakkan harga secara signifikan. Harga Brent diperdagangkan di kisaran US$79, turun sekitar 9% dalam seminggu. Bitcoin berada di sekitar US$62.800, setengah dari rekor Oktober di kisaran US$126.200, tapi hanya turun 1% dalam periode yang sama. Gerakan harga selanjutnya kemungkinan lebih ditentukan oleh funding dan The Fed, bukan harga minyak.
Jika para short menyerah, short squeeze bisa mengangkat harga Bitcoin dengan cepat. Jika The Fed tetap hawkish, tekanan tetap ada, baik dengan maupun tanpa minyak. Minyak memang masih berperan pada inflasi dan arah kebijakan The Fed. Tapi, hubungan minyak dan Bitcoin makin lemah di setiap tahap, dan akhirnya dampaknya mengecil sebelum benar-benar mempengaruhi harga Bitcoin.
