Elon Musk resmi menjadi triliuner pertama di dunia pada 12 Juni. Kekayaannya naik ke sekitar US$1,1 triliun setelah SpaceX menggalang dana US$75 miliar melalui IPO terbesar dalam sejarah pasar publik.
Lonjakan kekayaan ini membuat Musk semakin jauh meninggalkan deretan orang terkaya lain di dunia. Namun, di saat yang sama, pencapaian tersebut kembali menyoroti kesenjangan kekayaan yang semakin lebar di Amerika Serikat dan dunia.
Debut SpaceX di Nasdaq bukan hanya menjadi peristiwa besar di pasar saham, tetapi juga memicu perdebatan baru tentang konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang.
Menurut data Forbes, kekayaan Musk kini lebih besar dibanding gabungan kekayaan Larry Page, Sergey Brin, Jeff Bezos, dan Larry Ellison.
Data yang sama menunjukkan 10 orang terkaya dunia memiliki total kekayaan sekitar US$3,1 triliun.
Dalam satu hari, kelompok miliarder tersebut menambah kekayaan sekitar US$68,2 miliar. Sementara itu, sebagian besar rumah tangga biasa hampir tidak mengalami perubahan signifikan dalam kondisi keuangan mereka.
Dikutip BeInCrypto, Forbes mencatat adanya gap sekitar 1.464.078% antara rata-rata kekayaan miliarder dan rata-rata kekayaan warga Amerika.
Angka ini menunjukkan betapa ekstremnya konsentrasi kekayaan saat ini. Kenaikan valuasi SpaceX membuat kekayaan Musk melonjak sangat cepat, sementara pendapatan dan aset mayoritas masyarakat bergerak jauh lebih lambat.
Fenomena ini memperkuat kritik bahwa pasar modal modern semakin memperbesar jarak antara pemilik aset besar dan masyarakat umum.
Baca juga: Meme Coin ASTEROID Naik 68.000% Usai Sentuhan Elon Musk
Kesenjangan ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Menurut World Inequality Report, 10% orang terkaya menguasai sekitar 75% kekayaan global, sementara 50% terbawah hanya memiliki sekitar 2%.
Laporan tersebut juga menyebut kurang dari 60.000 multi-jutawan kini menguasai kekayaan tiga kali lebih besar dibanding separuh populasi dunia.
Di banyak negara, 50% masyarakat terbawah bahkan jarang memiliki lebih dari 5% kekayaan nasional.
Pada Januari, Oxfam melaporkan bahwa 12 miliarder terkaya dunia memiliki kekayaan lebih besar dibanding lebih dari 4 miliar orang termiskin.
Oxfam memperingatkan bahwa ketimpangan ekstrem dapat membuat kelompok super-rich memiliki pengaruh besar terhadap politik, media, ekonomi, dan institusi hukum.
Ketika kekayaan terkonsentrasi terlalu besar, risiko yang muncul bukan hanya ekonomi, tetapi juga politik dan sosial.
Di Amerika Serikat, data WealthVieu menunjukkan 1% teratas menguasai sekitar 31% kekayaan nasional.
Sebaliknya, 50% terbawah hanya memegang sekitar 2,6%.
Lonjakan kekayaan Musk setelah IPO SpaceX memperlebar gambaran ketimpangan tersebut, terutama ketika banyak rumah tangga Amerika masih menghadapi tekanan biaya hidup.
Pencapaian Musk sebagai triliuner terjadi ketika rumah tangga Amerika sedang menghadapi tekanan ekonomi.
Inflasi AS dilaporkan mencapai 4,2% pada Mei, level tertinggi dalam tiga tahun, di tengah perang AS-Iran. Selain itu, masyarakat Amerika disebut telah mengeluarkan tambahan US$57,7 miliar untuk bensin dan diesel sejak konflik Iran pecah pada 28 Februari.
Jika dirata-rata, beban tambahan tersebut setara sekitar US$440,6 per rumah tangga. Harga bensin nasional juga berada di sekitar US$4,1 per galon.
Lonjakan kekayaan Musk kembali memicu seruan pajak kekayaan dari sejumlah politisi AS.
Senator Elizabeth Warren menyebut rumah tangga Amerika biasa harus bekerja lebih dari 11 juta tahun untuk mencapai tingkat kekayaan Elon Musk.
Warren kembali menyerukan penerapan wealth tax agar miliarder dengan kekayaan ekstrem ikut berkontribusi lebih besar terhadap sistem ekonomi.
Selain Warren, Senator Bernie Sanders dan Representative Pramila Jayapal juga mendukung pendekatan pajak terhadap kekayaan miliarder.
Bagi pendukung wealth tax, kenaikan kekayaan ekstrem di tengah tekanan ekonomi masyarakat memperkuat argumen bahwa sistem pajak saat ini belum cukup adil.
Namun, perdebatan ini kemungkinan akan tetap menghadapi resistensi politik, terutama dari pihak yang menilai pajak kekayaan dapat menghambat investasi dan inovasi.
Tim Research Tokocrypto menilai IPO SpaceX menjadi momen penting karena memperlihatkan seberapa cepat kekayaan seseorang bisa melonjak ketika aset privat berubah menjadi aset publik.
“Ketika valuasi perusahaan naik dan saham mulai diperdagangkan, kekayaan pemegang saham utama dapat meningkat dalam skala yang sulit dibandingkan dengan pendapatan rumah tangga biasa,” ujarnya.
Karena itu, pencapaian Musk sebagai triliuner pertama dunia berpotensi menjadi titik baru dalam perdebatan soal pajak, ketimpangan, dan peran miliarder dalam ekonomi modern.
Baca juga: Dogecoin Tertekan Jelang Akhir Tahun, Harga Terjebak di $0,12
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.
The post Kekayaan Elon Musk Capai US$1 Triliun, Jadi Triliuner Pertama di Dunia appeared first on Tokocrypto News.

