Google telah menggugat jaringan kejahatan siber terorganisir yang mereka sebut sebagai “Outsider Enterprise,” menuduh kelompok berbasis di Cina tersebut menjalankan penipuan teks berbasis AI.
Perusahaan ini menggugat bersama FBI, yang sedang menyiapkan tindakan penegakan hukum sendiri, dan bekerja sama dengan AT&T, T-Mobile, serta Verizon untuk memblokir pesan-pesan tersebut.
Jaringan ini berkoordinasi lewat Telegram dan menjual kit phishing yang memungkinkan penjahat mengirimkan kampanye pesan palsu seolah-olah dari Google dan merek lain, menurut blog Google. Ratusan ribu korban telah kehilangan total uang dalam jumlah jutaan US$.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
Penyelidik mengaitkan kelompok ini dengan 9.000 situs palsu dan lebih dari 1 juta tautan penipuan. Pengguna Android melaporkan 55.000 pesan spam hanya pada bulan Mei. Enterprise ini mengirimkan 2,5 juta pesan dalam periode yang sama.
Kasus ini menjadi penting bukan hanya soal penipuan lewat pesan. Sekarang, AI memungkinkan penjahat memperbanyak penipuan meyakinkan yang sebelumnya memerlukan usaha manual. BeInCrypto telah memantau perubahan ini pada alat penjahat, risiko DeFi, dan jalur exploit AI yang memberi keuntungan struktural kepada penjahat dibandingkan pelindung sistem.
Google memadukan gugatan tersebut dengan upaya advokasi kebijakan. Perusahaan ini mendukung tujuh rancangan undang-undang bipartisan, termasuk National Strategy for Combating Scams Act dan Stop SCAMS Against Seniors Act.
Mereka juga menyoroti pertahanan internalnya. Google menyatakan bahwa alat pesan mereka kini mencegat lebih dari 10 miliar pesan berbahaya setiap bulan. Deteksi penipuan di Android menandai panggilan dan kontak mencurigakan secara real-time.
FBI menyebut aksi ini sebagai contoh pertahanan bersama terhadap penipuan lintas negara.
Langganan kanal YouTube kami untuk menonton pemimpin dan jurnalis berbagi wawasan ahli


