Trump mengungkapkan bahwa AS akan “menghantam Iran dengan keras lagi hari ini” tanpa menyebutkan target, sehingga berdampak pada harga minyak. Pasukan AS menyerang lokasi di dekat Selat Hormuz, Iran meluncurkan drone ke Armada Kelima AS di Bahrain, dan Komando Pusat AS menyebut pihaknya menonaktifkan kapal tanker M/T Settebello berbendera Palau di Teluk Oman.
Minyak mentah WTI, patokan minyak AS, naik 2,1% menjadi US$91 per barel pada hari Rabu, tapi harganya masih 25% lebih rendah dibandingkan puncaknya di bulan April, dan terdapat tiga faktor utama yang menjelaskan kesenjangan ini.
Ada tiga faktor yang menahan lonjakan harga seperti yang diperkirakan banyak pihak. Impor minyak mentah dari Cina turun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah juga telah melepas cadangan darurat dalam skala besar.
Selain itu, pasokan minyak masih mengalir melewati selat secara diam-diam, meskipun pasukan AS menyerang target-target Iran di dekat Hormuz lagi pekan ini.
Pemerintah AS mencatat cadangan minyak turun 7,2 juta barel minggu lalu, menandai penurunan selama tujuh minggu berturut-turut dan melampaui perkiraan penarikan sebesar 4 juta barel.
Stok minyak di hub Cushing, Oklahoma juga berkurang, tapi masih berada di atas ambang batas operasional minimum.
CEO Shell Wael Sawan, berkata langsung saat menghadiri Wall Street Journal CEO Council di London: “Saat ini pasar sedang mencoba mencari keseimbangan. Semua lebih banyak dipengaruhi oleh berita-berita jangka pendek.”
Kesenjangan harga minyak antara kontrak kertas dan fisik yang dilacak BeInCrypto di awal krisis, ketika Brent fisik mencapai US$141 sementara kontrak berjangka diperdagangkan sekitar US$107, sekarang sudah menyempit secara signifikan.
Trump mengungkapkan pada hari Rabu bahwa AS telah diam-diam memindahkan lebih dari 200 kapal komersial dan 100 juta barel minyak melewati selat tersebut sejak mengarahkan “misi rahasia”.
Pihak-pihak yang mengetahui operasi ini menyebut setidaknya beberapa kapal melintas pada malam hari dengan lampu dimatikan.
Aliran pasokan secara diam-diam ini, ditambah permintaan dari Cina yang anjlok dan pelepasan cadangan darurat, menjelaskan kenapa pasar masih mampu bertahan.
Gencatan senjata yang disepakati akhir April sudah gagal dipertahankan, dan analis pasar StoneX Fawad Razaqzada menuturkan kepada Bloomberg bahwa risiko pada proyeksi minyak mentah tetap “cenderung menguat”.
Pihak Iran menegaskan bahwa mereka akan tetap tegas terhadap setiap ancaman. Kini satu-satunya pertanyaan penting adalah apakah harga dan pasar minyak sanggup bertahan terhadap serangan berikutnya sebagaimana yang selalu terjadi pada kejadian sebelumnya.
