Minyak mentah WTI diperdagangkan di atas $116 per barel sementara minyak mentah Brent bergerak melewati $110, menandai lonjakan tajam yang didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik. Reli ini menyusul aksi militer AS yang baru dan peringatan mendesak terkait Selat Hormuz. Pedagang kini bereaksi cepat saat ketidakpastian mencengkeram pasar energi global. Tapi seberapa jauh harga bisa naik dari sini?
Pasar Minyak Bereaksi Terhadap Eskalasi Militer
Harga minyak mentah meningkat setelah Amerika Serikat melakukan serangan terhadap target militer di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran. Operasi yang dikonfirmasi oleh pejabat AS ini menargetkan lokasi strategis yang terkait dengan aktivitas militer. Pihak berwenang mengklarifikasi bahwa mereka tidak membidik infrastruktur energi. Namun, langkah tersebut mengirimkan gelombang kejut ke pasar minyak.
Pulau Kharg memainkan peran sentral dalam ekspor minyak Iran. Setiap gangguan di dekat pusat ini menimbulkan kekhawatiran langsung tentang stabilitas pasokan. Akibatnya, pedagang bergegas memperhitungkan potensi kekurangan. Reaksi ini mendorong tolok ukur WTI dan Brent naik tajam dalam hitungan jam.
Pada saat yang sama, laporan ledakan di Teheran dan wilayah lain menambah ketidakpastian. Media pemerintah Iran mengonfirmasi korban jiwa menyusul serangan pada infrastruktur, termasuk jembatan kereta api. Perkembangan ini memperdalam kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.
Ketegangan Selat Hormuz Mendorong Kekhawatiran Pasokan
Selat Hormuz tetap menjadi titik fokus krisis. Jalur air sempit ini menangani bagian signifikan dari pengiriman minyak global. Presiden Donald Trump menetapkan tenggat waktu tegas bagi Iran untuk membuka kembali rute tersebut pada pukul 8 malam EDT, meningkatkan taruhannya secara dramatis.
Trump memperingatkan bahwa "seluruh peradaban bisa mati malam ini" jika negosiasi gagal. Dia juga memberi sinyal kemungkinan tindakan lebih lanjut, termasuk ancaman menargetkan infrastruktur kritis. Meskipun dia mengakui proposal perdamaian yang sedang berlangsung, dia menggambarkannya sebagai tidak memadai pada tahap ini.
Lalu lintas kapal tanker menawarkan sinyal jelas akan gangguan. Hanya delapan kapal yang melewati selat pada hari Senin. Sebaliknya, aliran mencapai sekitar 20 juta barel per hari pada tahun 2025. Penurunan tajam ini menyoroti skala hambatan saat ini.
Wakil Presiden JD Vance memperkuat sikap pemerintahan, mendesak Iran untuk kembali ke negosiasi. Dia menekankan bahwa tekanan ekonomi akan meningkat jika pembicaraan terhenti. Dengan pernyataan seperti itu, pasar kini menghadapi hitungan mundur berisiko tinggi. Akankah Iran merespons sebelum tenggat waktu?
Taruhan Pasar Meningkat Pada Konflik Yang Lebih Luas
Investor kini memperhitungkan probabilitas lebih tinggi akan konflik berkepanjangan di wilayah tersebut. Beberapa pelaku pasar bahkan mempertimbangkan skenario yang melibatkan pergeseran politik besar di Iran. Ekspektasi ini memicu volatilitas lebih lanjut dalam harga minyak.
Jeda dalam aliran kapal tanker sudah memberi sinyal tekanan di seluruh rantai pasokan. Kilang dan importir mungkin segera merasakan dampaknya jika gangguan terus berlanjut. Pada saat yang sama, ketidakpastian mengaburkan prospek permintaan energi global dan stabilitas harga.
Sementara itu, negara-negara Teluk telah melaporkan serangan semalam, dan Israel mengonfirmasi aktivitas rudal masuk dari Iran. Perkembangan ini menunjukkan bahwa situasi meluas melampaui satu titik api tunggal. Setiap pembaruan baru menambah tekanan pada pasar yang mencoba menilai risiko.
Pedagang minyak kini menavigasi lanskap yang berkembang pesat. Harga tidak hanya mencerminkan kekhawatiran pasokan saat ini tetapi juga potensi eskalasi.
Sumber: https://coinpaper.com/16057/crude-oil-prices-brent-tops-110-wti-hits-116-after-u-s-strikes





